Sabtu, 18 Januari 2014
Renungankanlah wahai sodara ku..
Kebanyakan manusia cenderung menapaki rutinitas hidupnya dan itu menciptakan rasa "aman & nyaman"
Kamis, 02 Januari 2014
Ibu memang bukan aktivis
Orang bilang anakku seorang aktifis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak?
Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak. Tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia…
Anakku, kita memang berada di satu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini di manakah rumahmu nak? ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.
Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu.
Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.
Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak. Tapi bukankah aku ini ibumu, yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku.
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu.
Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat di sana sini. Ada jadwal mengkaji, ada juga jadwal untuk bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya. Di sana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada di sana.
Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu, sejak kau ada di rahim ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu, selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku…
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, di mana profesionalitasmu untuk ibu? Di mana profesionalitasmu untuk keluarga? Di mana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat.
Ah, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya.
Smga dapat menjadi introspeksi diri bagi kita...
cataatan hati dari ustad Iwan Setiawan
aku ingin sedikit bercerita tentang kegalauan terhadap alam..
Banyak orang mengeluh dengan hujan, tapi aku menangkap keindahan nya, tirai-tirai air itu jatuh bersusul-susulan seolah berlomba memberi karunia pada bumi...
Menikmati jatuhnya titik-titik air yg bagai pijatan dan cubitan sejuk sungguh sensasi yg hanya bisa diberikan oleh hujan...
Di saat ia datang dengan hembusan angin yg kencang mereka menyebutnya badai tapi aku merasakan alam sedang bermain riang....
Kilatan-kilatan terang berganti-ganti, ditengah keredupan yg diberikan oleh gumpalan-gumpalan awan hitam menutup matahari agar suasana tak terlampau terang, sungguh eksotik...gemuruh suara dan gelagar-gelagar kilat itu menghentak jiwa kelelakian..
Mereka menyebutku suka menantang alam, sebenarnya sungguh aku hanya ingin merasakan permainannya..
Mendaki puncak-puncak terjal yg tinggi, berjalan di pinggir-pinggir jurang yang curam, menikmati hempasan hujan badai, menghitung gema-gema guntur, menebak-nebak lukisan cepat sang kilat...ahh betapa asyik nya
Merayap di tebing-tebing yg tersapu kabut...duhai, betapa indah nya..
Aku belum tahu, seberapa liar & eksotik rasa keindahan mu...setiap manusia di berikan selera rasa yg berbeda dan tentu saja semua istimewa...tak ada yg lebih hebat atau lebih buruk...ini sungguh hanya tentang keunikan setiap kita
Banyak orang mengeluh dengan hujan, tapi aku menangkap keindahan nya, tirai-tirai air itu jatuh bersusul-susulan seolah berlomba memberi karunia pada bumi...
Menikmati jatuhnya titik-titik air yg bagai pijatan dan cubitan sejuk sungguh sensasi yg hanya bisa diberikan oleh hujan...
Di saat ia datang dengan hembusan angin yg kencang mereka menyebutnya badai tapi aku merasakan alam sedang bermain riang....
Kilatan-kilatan terang berganti-ganti, ditengah keredupan yg diberikan oleh gumpalan-gumpalan awan hitam menutup matahari agar suasana tak terlampau terang, sungguh eksotik...gemuruh suara dan gelagar-gelagar kilat itu menghentak jiwa kelelakian..
Mereka menyebutku suka menantang alam, sebenarnya sungguh aku hanya ingin merasakan permainannya..
Mendaki puncak-puncak terjal yg tinggi, berjalan di pinggir-pinggir jurang yang curam, menikmati hempasan hujan badai, menghitung gema-gema guntur, menebak-nebak lukisan cepat sang kilat...ahh betapa asyik nya
Merayap di tebing-tebing yg tersapu kabut...duhai, betapa indah nya..
Aku belum tahu, seberapa liar & eksotik rasa keindahan mu...setiap manusia di berikan selera rasa yg berbeda dan tentu saja semua istimewa...tak ada yg lebih hebat atau lebih buruk...ini sungguh hanya tentang keunikan setiap kita
tentang mimpi..
Renungkanlah tentang mimpi..
Wahai sahabatku..
Tentu saja aku tak hendak bercerita tentang mimpi-mimpu buruk dari orang-orang yg tak nyenyak dalam tidurnya..
Mudah terlupakan dan segera tergantikan oleh mimpi-mimpi pada tidur-tidur yg berikutnya..
Wahai sahabatku..
Bukan mimpi yang lahir dari tidur dan ketidaksadaran yang ingin ku ajak engkau renungkan
Tapi justru mimpi-mimpi yang dibangun dari puncak-puncak kesadaran tertinggi kita sebagai manusia..
Bukankah memang kesadaran yang menjadi anugerah terbesar bagi kehidupan manusia...
Wahai sahabatku
Mimpi yg kumaksudkan adalah mimpi-mimpi tentang keunggulan dan kedigdayaan..
Dan, sungguh tak banyak yang dikaruniai Allah dengan mimpi yang seindah ini...
Inilah mimpi, yang dalam sejarah manusia selalu melahirkan mukjizat-mukjizat kehidupan dan menghancurkan seluruh dogma dan rasio tentang kemustahilan...
Wahai sahabatku
Dibalik kesaktiannya, mimpi ini juga membawa kutukan..
Tak akan tenang hidupmu selama engkau membawa terus mimpimu itu..
Engkau kan selalu diburu dan merasa dikejar waktu..
Hatimu selalu resah mengiringi langkah-langkah lari mu yang terus engkau gesa...
Engkau memandang dunia dengan tatapan yang tak lagi sama...
Seolah semua manusia menunggu mu karena engkau lah yang sekarang jadi penghulu nya...
Jiwamu membumbung tinggi penuh percaya diri
Semangatmu menggelora, kata-kata mu kan terasa bagai bara..
Kau lipat-lipat waktu dan kehilangan waktu istirahatmu..
Itulah kutukan bagi mimpi-mimpimu..
Wahai sahabatku..
Kutukan ini tentu saja tak akan menyiksa semua manusia
Karena DIA akan selalu memilih yang terkuat saja diantara kita...
Wahai sahabatku..
Tentu saja aku tak hendak bercerita tentang mimpi-mimpu buruk dari orang-orang yg tak nyenyak dalam tidurnya..
Mudah terlupakan dan segera tergantikan oleh mimpi-mimpi pada tidur-tidur yg berikutnya..
Wahai sahabatku..
Bukan mimpi yang lahir dari tidur dan ketidaksadaran yang ingin ku ajak engkau renungkan
Tapi justru mimpi-mimpi yang dibangun dari puncak-puncak kesadaran tertinggi kita sebagai manusia..
Bukankah memang kesadaran yang menjadi anugerah terbesar bagi kehidupan manusia...
Wahai sahabatku
Mimpi yg kumaksudkan adalah mimpi-mimpi tentang keunggulan dan kedigdayaan..
Dan, sungguh tak banyak yang dikaruniai Allah dengan mimpi yang seindah ini...
Inilah mimpi, yang dalam sejarah manusia selalu melahirkan mukjizat-mukjizat kehidupan dan menghancurkan seluruh dogma dan rasio tentang kemustahilan...
Wahai sahabatku
Dibalik kesaktiannya, mimpi ini juga membawa kutukan..
Tak akan tenang hidupmu selama engkau membawa terus mimpimu itu..
Engkau kan selalu diburu dan merasa dikejar waktu..
Hatimu selalu resah mengiringi langkah-langkah lari mu yang terus engkau gesa...
Engkau memandang dunia dengan tatapan yang tak lagi sama...
Seolah semua manusia menunggu mu karena engkau lah yang sekarang jadi penghulu nya...
Jiwamu membumbung tinggi penuh percaya diri
Semangatmu menggelora, kata-kata mu kan terasa bagai bara..
Kau lipat-lipat waktu dan kehilangan waktu istirahatmu..
Itulah kutukan bagi mimpi-mimpimu..
Wahai sahabatku..
Kutukan ini tentu saja tak akan menyiksa semua manusia
Karena DIA akan selalu memilih yang terkuat saja diantara kita...
Langganan:
Postingan (Atom)

