Senin, 18 Juni 2012

ibu


Terniang termenung sendiri
 dalam ruang hampa yang pengap
 dalam ruang yang sangat sunyi
 dalam suasana hati yang gundah gelisah

 Disudut ruang terbesis cahaya lilin
 memberikan penerangan diruang yang gelap
 menyinari seluruh sudut ruang dalam hati
 yang s'lalu terniang wajah yang dicinta

 Wahai angin yang bertiup kencang diluar sana
 sudikah engkau menyimpaikan isi hatiku
 sebuah perasaan yang sudah lama ku pendam
 yang tak pernah tersimpaikan dari mulutku yaog kaku

 I B U .....,
 dalam do'a ku meminta maafmu
 dalam tangis ku memohon ampunmu
 dalam mimpi ku bersujud di kakimu
 memohon ampun atas dosa dan keselahanku padamu . . .:)

HUBUNGAN IKHWAN-AKHWAT


, renungan klasik bagi aktifis dakwah
Leave a comment
Komunikasi merupakan jalan pemerkuat ukhuwah, mempererat persaudaraan, dan juga merupakan kunci keberhasilan dakwah. Dengan komunikasi, kinerja dakwah jama’i bisa menjadi solid. Namun dari komunikasi pula dapat terjadi salah paham.

Adakalanya kita terkadang terlena, karena komunikasi yang intens untuk mengejar agenda-agenda dakwah sampai lupa batasan ikhwan dan akhwat dalam hal berkomunikasi. Kita, terutama ikhwan-akhwat harus tetap waspada agar nikmat ukhuwah itu tidak menjelma menjadi laknat yang justru akan mencelakakan dan memerangkap kita ke dalam lembah fitnah yang mengancam setiap aktivitas da’wah.

Semakin besar dan meluasnya kerja da’wah akhir-akhir ini, menuntut berbagai strategi baru di kalangan aktivis da’wah, yaitu ikhwan-akhwat juga sulit untuk dielakkan. Karena memang ruang lingkup kerja yang makin luas dan besar menuntut hal itu.

Di kalangan ikhwan-akhwat yang bukan mahram dan belum menikah, tuntutan untuk “saling-salingan” pun muncul mengiringi perkembangan situasi itu. Saling menasehati, saling tolong-menolong , saling berpesan, saling telepon, saling misscalled, saling sms, dan saling-saling lainnya. Hal ini tentu tidak terlepas dari alasan bahwa kita bersaudara dan ini berkaitan dan demi kerja da’wah.

Tentu alasan ini bisa dibenarkan, karena memang seorang saudara memiliki hak ukhuwah atas saudaranya. Namun, kita juga mesti WASPADA agar saling-salingan itu tidak menyeret para ikhwan dan akhwat ke sebuah lembah yang jauh dari kemuliaan dakwah di mata Allah SWT. Karena jika kita mau jujur, dalam interaksi keduanya, sangat tipis sebenarnya jarak yang membedakan mana yang memang murni da’wah dan menunaikan hak ukhuwah, dengan mana yang interaksi berbumbu niat-niat lain. Hanya diri kita sendiri dan Allah sajalah yang tahu maksud kita sesungguhnya (”Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” Al-Mukmin : 19). Oleh sebab itu kita harus banyak bertanya dan jujur pada hati nurani sendiri. SMS atau missed call misalnya, bukankah SMS atau missed call rindu bisa saja berjubah SMS atau Missed Call amanah da’wah.

Sekiranya fenomena itu memang ada atau memang sudah mulai mengemuka, maka suatu hal yang mesti kita sadari adalah, bahwa kita hanya terikat karena dan dalam da’wah. Dan kita menyadari bahwa ada aturan ikatan kekerabatan (mahram) diantara kita. Oleh sebab itu kita perlu “pemurnian” agar interaksi ikhwan dan akhwat itu betul-betul interaksi da’wah yang tak secuil apapun disekutui niat lain didalamnya. Kitalah yang harus cerdas membedakan, mana interaksi da’wah yang memang mesti ditunaikan dan mana interaksi yang menyimpang yang mesti tak kita lakukan.

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui dan bukan pula bertujuan untuk mengajak kita memutus interaksi antara keduanya. Saya hanya menuntut PROPORSIONALITAS menghadapi fenomena yang berpeluang menjadi fitnah ini dan saya pun masih belajar dalam hal ini. Kita mesti menempatkan segalanya sesuai porsi mereka masing-masing. Kita tidak bisa menafikkan bahwa kita juga sering lupa. Dan ingatlah, bahwa fitnah itu juga bersemi diladang-ladang kebaikkan.

“Ingatlah Bahwa Allah Bersama Anda Dimana pun Anda Berada. Dia Mengawasi Anda dan Apa Saja Yang terlintas dipikiran Anda Pasti di KetahuiNya” (Hasan Al Banna)

Bagaimana agar komunikasi efektif tapi tetap terjaga???

Contoh dari note akh Ridwansyah (Ketua GAMAIS ITB 2008-2009)

Proses komunikasi yang efisien. Komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat perlu diefisienkan sedemikan rupa, agar tidak terjadi fitnah yang mungkin bisa terbentuk. Saya akan mengambil contoh sms seorang ikhwan ke akhwat, dalam dua versi dengan topik yang sama, yakni mencocokan waktu untuk rapat.

Versi 1

Ikhwan : assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarnya ? hasil UAS sudah ada ?

Akhwat : wa’alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat do’a akhie juga, hehehe, UAS belum nih, uhh, deg deg an nunggu nilainya, tetep mohon doanya yah !!

Ikhwan : iya insya Allah didoakan, oh ya ukhti, kira kira kapan yah bisa rapat untuk bahas tentang acara ?

Akhwat : hmhmhm… kapan yah ? akhie bisanya kapan, kalo aku mungkin besok siang dan sore bisa

Ikhwan : okay, besok sore aja dech, ba’da ashar di koridor timur masjid, jarkomin akhwat yang lain yah

Akhwat : siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum

Ikhwan : sip sip, makasih yah ukhti, GANBATTE !! wassalamu’alaikum

Akhwat : wa’alaikum salam

Versi 2

Ikhwan : assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara ditempat biasa ? untuk bahas acara

Akhwat : afwan, kebetulan ada kuis, gimana kalo besok siang aja?

Ikhwan : insya Allah boleh, kita rapat besok siang di koridor timur masjid, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu’alaikum

Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar’i. Pada versi 1 kita bisa melihat sebuah percapakan singkat via sms antara ikhwan dan akhwat yang bisa dikatakan sedikit “lebai” ( baca “ berlebihan ), sedangkan pada versi 2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk membangun budaya komunikasi yang efisien dan “secukupnya”.Dalam hal percakapan langsung, seorang ikhwan dan akhwat sangat diharapkan untuk menjauhi percapakan berdua saja, walau itu di tempat umum. Saya menyarankan agar salah satu ikhwan atau akhwat meminta muhrimnya (sesama jenis kelamin) untuk menemaninya. Dengan itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalkan kesempatan untuk khilaf. Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif. Karena setiap pembicaraan yang dilakukan tidak ada yang sia-sia, semua membahas tentang agenda dakwah yang dilakukan. Selain itu, perlu kiranya kita mengurangi waktu ikhwan dengan akhwat untuk bekerja bersama pada waktu dan tempat yang sama. Sebutlah untuk pekerjaan mengepak sembako untuk baksos, saya merekomendasikan agar kegiatan dilakukan terpisah. Jangan ikhwan dan akhwat sama sama melakukan sebuah aktifitas, contohnya lagi ikhwan dan akhwat bersama sama menimbang gula, ikhwan memasuki gula ke plastik dan akhwat menimbang dan mengikat plastik.

Saya merekomendasikan agar hal seperti ini tidak terjadi, karena proses ini memungkinkan adanya kesempatan untuk khilaf. Kita tidak akan pernah mengetahui isi dari pikiran dan hati seseorang. Oleh karena itu diperlukan regulasi yang tepat untuk menjaga kader dari hal hal yang bisa merusak keberkahan dakwah. Untuk kasus kerja bersama baksos, bisa saja menjadi ikhwan mengerjakan di bagian pengepakkan beras dan gula, akhwat mengerjakan pengepakkan susu dan minyak.

Mungkin dapat diambil hikmah dari contoh di atas.

Sabtu, 16 Juni 2012

Ada Lomba Essay di UIN


Tribun Timur - Minggu, 25 Maret 2012 22:04 WITA
Laporan: Ilham / Tribun Timur

MAKASSAR,TRIBUN-TIMUR.COM -- Lembaga Dakwah Al Uswah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar akan menggelar lomba penulisan essay di kampus UIN Alauddin Makassar, Rabu (29/3/2012)

Lomba essay bertema Pendidikan Karakter dalam Membangun Bangsa ini dirangkaikan pelatihan muballigh dan muballigah, pemeriksaan kesehatan gratis, dan basar buku.

"Semoga Allah mencurahkan rahmatnya dalam rangka melaksanakan program kerja lembaga dakwah Al Uswah fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Alauddin Makassar," kata ketua umum Al Uswah Mursalim Latif, Makassar, Minggu (25/3/2012).(*)

Penulis : Ilham
Editor : Ina Maharani

Rabu, 13 Juni 2012

suara hati seorang ketua

lembaga dakwah al uswah fakultas tarbiyah uin makassar

SALIM AL MARUSY




bismillah.
akhi/ukhti ana tahu dari sorot mata kalian, kalian begitu lelah dengan beban dan kerja -kerja dakwah yang begitu berat, ana ingin kalian harus tetap bersabar, tetap yakin dengan janji Allah , yakin dan ikhlas dengan jual-beli yang kalian lakukan selama ini, kalian telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan uang-uang yang kalian miliki untuk membiayai proyek dakwah yang kita telah bangun bersama-sama.
akhi/ukhti kereta dakwah ini masih sangat panjang, rintangan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam dakwah ini, begitu pula yang namanya ujian. saya yakin insya Allah kalian bisa menjalani semua.
tetaplah berdoa semoga kita semua dapat dikumpulkan bersama-sama nanti dalam surga Allah.



profil ketua al uswah


SALIM AL MARUSY


Mursalim Latif, nama panggilan Salim lahir di Maros, 25 Agustus 1989,  anak ke 6 dari 9 bersaudara, lahir disebuah dusun kecil bernama Bonto leko, di desa Alatenggae, kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, ayah bernama Abdul Latif dan Ibu bernama Indo Sakka. pernah sekolah di SD INP 45 Tana Tekko tamat tahun 2002, kemudian lanjut di SMPN 1 Bantimurung tamat 2005, kemudian lanjut di SMAN 1Bantimurung yang kemudian berganti nama pada tahun 2010 menjadi SMAN 4 Maros. tamat SMA tahun 2008, pada tahun yang sama melanjutkan pendidikannya d Universitas Negeri Makassar dengan jurusan pendidikan Bahasa asing Jerman.dengan semangat menuntut ilmu yang tinggi  pada tahun 2009 lanjut di Universitas Islam Negeri Alauddin mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. pernah aktif di beberapa organisasi kampus baik intra maupun ekstra kampus, antara lain KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim indonesia) komisariat UIN alauddin Makassar, pernah juga menjabat sebagai sekertaris bidang kerohanian Badan Eksekutif Mahasiswa fakulatas tarbiyah UIN . pernah juga menjabat ketua lembaga dakwah fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Alauddin Makassar. hobby membaca buku, tilawah, dan dengar nasyid.

pesan : seandainya kita tahu, kita tidak akan pernah belajar.

struktur kepengurusan lembaga dakwah al uswah 2012


STRUKTUR PENGURUS LDF AL USWAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN 2012-2013

KETUA : MURSALIM LATIF
SEKERTARIS : M.RAHMAT KURNIAWAN
BENDAHARAH : IRMAYANTI

ANGGOTA : 
(IKHWAN)
AHMAD ZAKY MALIK
ASWALUDDIN
ARDIANSYAH
MUH ASLAM
JUMARDIN
MUNAWAR
LUKMANUL HAKIM
SISWADI KHALIFAH
MUH SARIFIN
SUPRIANDI


(AKHWAT)
MARDIYAH
SOHRAH INAYAH NATSIR
WAFA
MAHDANIAH
SALMIAH
RESKY
MUNAWARAH


Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan
keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin.


cerita ikhwah


Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan. Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput.
Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.
“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya.
Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!
Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita.
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.
Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah.
Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )
Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?
Ikhwah,
FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!
Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?
Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!
Ikhwah,
Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.
‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?
SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….
Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.
Bayangkan ……………..
Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.
Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.
Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.
Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.
Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.
Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah.
Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!
Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!
Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.
Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!
Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi,
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti
Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!
Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!
ukhti uni
Eramuslim, 19/02/2004
posted by cerita dakwah kampus @ Permalink Â¤21:57   7 comments