, renungan klasik bagi aktifis dakwah
Leave a comment
Komunikasi merupakan jalan pemerkuat ukhuwah, mempererat
persaudaraan, dan juga merupakan kunci keberhasilan dakwah. Dengan komunikasi,
kinerja dakwah jama’i bisa menjadi solid. Namun dari komunikasi pula dapat
terjadi salah paham.
Adakalanya kita terkadang terlena, karena komunikasi yang
intens untuk mengejar agenda-agenda dakwah sampai lupa batasan ikhwan dan
akhwat dalam hal berkomunikasi. Kita, terutama ikhwan-akhwat harus tetap
waspada agar nikmat ukhuwah itu tidak menjelma menjadi laknat yang justru akan
mencelakakan dan memerangkap kita ke dalam lembah fitnah yang mengancam setiap
aktivitas da’wah.
Semakin besar dan meluasnya kerja da’wah akhir-akhir ini,
menuntut berbagai strategi baru di kalangan aktivis da’wah, yaitu ikhwan-akhwat
juga sulit untuk dielakkan. Karena memang ruang lingkup kerja yang makin luas
dan besar menuntut hal itu.
Di kalangan ikhwan-akhwat yang bukan mahram dan belum
menikah, tuntutan untuk “saling-salingan” pun muncul mengiringi perkembangan
situasi itu. Saling menasehati, saling tolong-menolong , saling berpesan,
saling telepon, saling misscalled, saling sms, dan saling-saling lainnya. Hal
ini tentu tidak terlepas dari alasan bahwa kita bersaudara dan ini berkaitan
dan demi kerja da’wah.
Tentu alasan ini bisa dibenarkan, karena memang seorang
saudara memiliki hak ukhuwah atas saudaranya. Namun, kita juga mesti WASPADA
agar saling-salingan itu tidak menyeret para ikhwan dan akhwat ke sebuah lembah
yang jauh dari kemuliaan dakwah di mata Allah SWT. Karena jika kita mau jujur,
dalam interaksi keduanya, sangat tipis sebenarnya jarak yang membedakan mana
yang memang murni da’wah dan menunaikan hak ukhuwah, dengan mana yang interaksi
berbumbu niat-niat lain. Hanya diri kita sendiri dan Allah sajalah yang tahu
maksud kita sesungguhnya (”Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa
yang disembunyikan oleh hati” Al-Mukmin : 19). Oleh sebab itu kita harus banyak
bertanya dan jujur pada hati nurani sendiri. SMS atau missed call misalnya,
bukankah SMS atau missed call rindu bisa saja berjubah SMS atau Missed Call
amanah da’wah.
Sekiranya fenomena itu memang ada atau memang sudah mulai
mengemuka, maka suatu hal yang mesti kita sadari adalah, bahwa kita hanya
terikat karena dan dalam da’wah. Dan kita menyadari bahwa ada aturan ikatan
kekerabatan (mahram) diantara kita. Oleh sebab itu kita perlu “pemurnian” agar
interaksi ikhwan dan akhwat itu betul-betul interaksi da’wah yang tak secuil
apapun disekutui niat lain didalamnya. Kitalah yang harus cerdas membedakan,
mana interaksi da’wah yang memang mesti ditunaikan dan mana interaksi yang
menyimpang yang mesti tak kita lakukan.
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui dan bukan pula bertujuan
untuk mengajak kita memutus interaksi antara keduanya. Saya hanya menuntut
PROPORSIONALITAS menghadapi fenomena yang berpeluang menjadi fitnah ini dan
saya pun masih belajar dalam hal ini. Kita mesti menempatkan segalanya sesuai
porsi mereka masing-masing. Kita tidak bisa menafikkan bahwa kita juga sering
lupa. Dan ingatlah, bahwa fitnah itu juga bersemi diladang-ladang kebaikkan.
“Ingatlah Bahwa Allah Bersama Anda Dimana pun Anda Berada.
Dia Mengawasi Anda dan Apa Saja Yang terlintas dipikiran Anda Pasti di
KetahuiNya” (Hasan Al Banna)
Bagaimana agar komunikasi efektif tapi tetap terjaga???
Contoh dari note akh Ridwansyah (Ketua GAMAIS ITB 2008-2009)
Proses komunikasi yang efisien. Komunikasi yang dilakukan
antara ikhwan dan akhwat perlu diefisienkan sedemikan rupa, agar tidak terjadi
fitnah yang mungkin bisa terbentuk. Saya akan mengambil contoh sms seorang
ikhwan ke akhwat, dalam dua versi dengan topik yang sama, yakni mencocokan
waktu untuk rapat.
Versi 1
Ikhwan : assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarnya ? hasil
UAS sudah ada ?
Akhwat : wa’alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat
do’a akhie juga, hehehe, UAS belum nih, uhh, deg deg an nunggu nilainya, tetep
mohon doanya yah !!
Ikhwan : iya insya Allah didoakan, oh ya ukhti, kira kira
kapan yah bisa rapat untuk bahas tentang acara ?
Akhwat : hmhmhm… kapan yah ? akhie bisanya kapan, kalo aku
mungkin besok siang dan sore bisa
Ikhwan : okay, besok sore aja dech, ba’da ashar di koridor
timur masjid, jarkomin akhwat yang lain yah
Akhwat : siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum
Ikhwan : sip sip, makasih yah ukhti, GANBATTE !!
wassalamu’alaikum
Akhwat : wa’alaikum salam
Versi 2
Ikhwan : assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara
ditempat biasa ? untuk bahas acara
Akhwat : afwan, kebetulan ada kuis, gimana kalo besok siang
aja?
Ikhwan : insya Allah boleh, kita rapat besok siang di
koridor timur masjid, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu’alaikum
Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat
bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar’i. Pada versi
1 kita bisa melihat sebuah percapakan singkat via sms antara ikhwan dan akhwat
yang bisa dikatakan sedikit “lebai” ( baca “ berlebihan ), sedangkan pada versi
2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa
basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita
membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk
membangun budaya komunikasi yang efisien dan “secukupnya”.Dalam hal percakapan
langsung, seorang ikhwan dan akhwat sangat diharapkan untuk menjauhi percapakan
berdua saja, walau itu di tempat umum. Saya menyarankan agar salah satu ikhwan
atau akhwat meminta muhrimnya (sesama jenis kelamin) untuk menemaninya. Dengan
itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalkan kesempatan untuk
khilaf. Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih
membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif. Karena setiap pembicaraan
yang dilakukan tidak ada yang sia-sia, semua membahas tentang agenda dakwah
yang dilakukan. Selain itu, perlu kiranya kita mengurangi waktu ikhwan dengan
akhwat untuk bekerja bersama pada waktu dan tempat yang sama. Sebutlah untuk
pekerjaan mengepak sembako untuk baksos, saya merekomendasikan agar kegiatan
dilakukan terpisah. Jangan ikhwan dan akhwat sama sama melakukan sebuah
aktifitas, contohnya lagi ikhwan dan akhwat bersama sama menimbang gula, ikhwan
memasuki gula ke plastik dan akhwat menimbang dan mengikat plastik.
Saya merekomendasikan agar hal seperti ini tidak terjadi,
karena proses ini memungkinkan adanya kesempatan untuk khilaf. Kita tidak akan
pernah mengetahui isi dari pikiran dan hati seseorang. Oleh karena itu
diperlukan regulasi yang tepat untuk menjaga kader dari hal hal yang bisa
merusak keberkahan dakwah. Untuk kasus kerja bersama baksos, bisa saja menjadi
ikhwan mengerjakan di bagian pengepakkan beras dan gula, akhwat mengerjakan
pengepakkan susu dan minyak.
Mungkin dapat diambil hikmah dari contoh di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar